Kamis, 07 Mei 2015

Proposal: Peran Orang Tua Dalam Mengasuh Anak

RANCANGAN METODE PENELITIAN KUALITATIF 1

PERAN ORANG TUA DALAM MENGASUH ANAK
(STUDI TENTANG POLA ASUH ORANG TUA PADA ANAK DI PERUMAHAN GRIYA BANTAR INDAH, KECAMATAN KEMBARAN, BANYUMAS)






A.       Judul
Peran Orang Tua Dalam Mengasuh Anak (Studi Tentang Pola Asuh Orang Tua Pada Anak di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas).
B.        Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah Sosiologi Keluarga.
C.        Latar Belakang Masalah
Hubungan terkecil dari suatu masyarakat yang memiliki suatu keterkaitan satu sama lain, biasa disebut dengan keluarga. Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Pengertian dari keluarga sendiri merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi sang suami dan istri, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan.
Peran sosial dalam setiap keluarga berbeda-beda, salah satunya peran orang tua dalam mengasuh anaknya yang menjadi tanggung jawab terpenting bagi perkembangan sikap dan mental anak dengan cara merawat dan membimbing anak dengan baik dan penuh perhatian. Sebab, orang tua merupakan sosok yang pertama kali dikenal oleh anak dan orang tua memberikan tanggapan atas apa yang dilakukan oleh anak mengenai sisi positif dan negatif. Dalam mendidik anak terdapat lima macam pola asuh orang tua yang diterapkan kepada anaknya diantaranya: pola asuh otoriter, pola asuh demokratis, pola asuh temporizer, pola asuh appeasers, dan pola asuh permisif.
Kenyataan sekarang ini orang tua cenderung menggunakan pola asuh permisif yang memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak atau istilah yang biasa disebut dengan “dimanja”. Orang tua biasanya menuruti semua keinginan anak, apalagi dalam lingkup perkotaan yang kehidupannya dipengaruhi oleh perkembangan jaman. Orang tua beranggapan bahwa dengan uang yang dimilikinya dapat memanjakan dan memberikan segala kebutuhan anaknya. Padahal dengan mereka sibuk bekerja, anak mereka secara tidak langsung kekurangan kasih sayang, perhatian dan waktu bersama orang tua.  Sehingga dengan sibuknya orang tua bekerja maka peran orang tua terhadap anaknya terabaikan, mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing bahkan komunikasi diantara mereka cenderung renggang. Hal ini membuat tindakan kasih sayang orang tua kepada anaknya berkurang dan bahkan untuk saling memahami satu sama lain sangat sulit untuk dilakukan.
Ada beberapa kasus mengenai kenakalan remaja akibat dari salah mendidik atau salah pola asuh orang tua. Kenakalah remaja adalah perilaku menyimpang atau melanggar hukum sehingga mengganggu ketertiban dan ketengan hidup di masyarakat. Kenakalan remaja yang biasa ditemukan bermacam-macam seperti dari kenakalan ringan seperti membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar peraturan yang orang tua berikan, hingga kenakalan berat seperti tawuran, merokok, minum-minuman keras, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan seks bebas. Beberapa kasus yang sering terjadi di Indonesia adalah salah satunya seks bebas. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ) tahun 2008 menunjukan data bahwa jumlah remaja di Jakarta yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah sebanyak 42% sedangkan pada tahun 2010 jumlah meningkat menjadi 51%, kasus hubungan seks pra nikah  pada remaja di kota-kota besar juga menunjukan jumlah yang tidak berbeda jauh dengan Jakarta, yaitu 54% di Surabaya, 47% di Bandung, 52% di Medan, dan 37% di Yogyakarta.
Contoh kasus lainnya adalah mengkonsumsi obat – obatan terlarang / narkoba dan perkelahian antar pelajar seperti yang dijelaskan bahwa dari 15.000 kasus narkoba selamadua tahun terakhir, 46 % di antaranya dilakukan oleh remaja (Media Indonesia, 30 Juni, hal; 16). Data di Jakarta tahun 1999 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 2000 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 2001 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 2002 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat.Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus (Tambunan, dalam e-psikologi, 2002). Sedangkan dari persensentase yang didapatkan, tindak kriminal di kabupaten Sidoarjo semakin meningkat. Dari tahun 51,43 % pada tahun 2007 menjadi 55,27 % di tahun 2008 atau naik sebesar 3.84%. Semua kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh remaja tersebut tidak luput dari pola asuh yang diberikan oleh orang tuannya. Sangat mungkin kiranya jika kenakalan tersebut dilakukan karna kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tuannya atau mungkin remaja tersebut telah di didik sedemikian keras sehingga anak tersebut menjadi membangkang karena terlalu dikekang.
Dari kasus-kasus kenakalan remaja yang terjadi tersebut yang timbul dari kelalaian orang tua dalam mengasuh dan mendidik tersebut kami tertarik untuk melakukan penelitian terhadap masalah tersebut. Kami tertarik untuk meneliti tentang seperti apa pola asuh yang diberikan oleh orang tua pada anak di suatu perumahan. Sehingga, penelitian ini kami beri judul dengan “Peran Orang Tua dalam Mengasuh Anak (Studi Tentang Pola Asuh Orang Tua pada Anak di Perumahan Griya Bantar Indah, Kecamatan Kembaran, Banyumas)”
D.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana peran orang tua dalam mengasuh anak di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas?
2.      Bagaimana pola asuh orang tua pada anak di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas?
E.        Tujuan Penelitian
1.      Untuk Mengetahui peran orang tua dalam mengasuh anak di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas.
2.      Untuk Mengetahui pola asuh orang tua pada anak di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas.
F.         Manfaat Penelitian
1.      Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menyumbang suatu manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya aplikasi pada Sosiologi keluarga dalam meningkatkan analisis pembaca mengenai peran orangtua dalam mengasuh anak. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah referensi terhadap disiplin ilmu terkait yaitu Sosiologi yang mengkaji kehidupan sosial manusia, dan memperluas ilmu pengetahuan mengenai peran dan pola asuh orang tua dalam mengasuh anak.
2.      Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah informasi dan masukan bagi masyarakat pada umumnya, khususnya pada orang tua yang memiliki peran dalam mengasuh dan mendidik anak, serta memotivasi kepada orang tua agar menjalankan peranannya dengan baik.
G.       Landasan Teoritik
Dalam realitas kehidupan, individu merupakan bagian dari sebuah keluarga. Menurut Khairuddin (1997 : 4), keluarga adalah suatu kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat, dan di dalam sebuah keluarga terdapat seorang ayah, ibu, dan anak. Selain itu, setiap individu di dalam keluarga mempunyai sebuah peran yang harus dimainkan oleh mereka. Peran yaitu sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap individu berdasarkan status yang dimilikinya. Disini ibu dan ayah memiliki peranan kepada anaknya sebagai orang tua. Salah satu peranan orang tua kepada anaknya yaitu melakukan pembentukan kepribadian anak-anaknya memalui pola asuh yang mereka terapkan.
Berkaitan dengan penjabaran diatas, peneliti menggunakan paradigma definisi sosial, dalam paradigma definisi sosial terdapat tiga teori diantaranya  teori aksi (action theory), interaksionisme simbolik (simbolik interactionism) dan fenomenologi (phenomenology). Dengan adanya tiga teori tersebut, peneliti mengambil salah satu teori dari ketiga teori diatas yaitu teori interaksionisme simbolik karena orang tua melakukan pola asuh melalui interaksi dengan anak. Interaksi-interaksi yang diberikan orang tua melalui sebuah symbol seperti adanya pelukan, pukulan, pujian, dan bentuk lainnya. Simbol-simbol tersebut merupakan hal-hal yang dapat mempengaruhi kepribadian anak. Penyesuaian anak di dalam masyarakat dipengaruhi oleh orangtua. Hal tersebut dikarenakan orang tua berperan sebagai media sosialisasi pertama yang paling penting bagi anak. Misalnya, pemberian sosialisasi yang baik terhadap anak akan mempermudah anak dalam menyesuaikan dirinya di dalam masyarakat nantinya, sedangkan sosialisasi yang buruk terhadap anak akan membuat anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri di dalam masyarakat.
H.       Tinjauan Pustaka
a.         Pola Asuh Orang Tua
          Pola asuh orang tua merupakan  pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif maupun positif, dimana seorang anak akan beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga dapat menanamkan sikap disiplin dan mandiri. Menurut Edward (2006), pola asuh adalah suatu pengajaran orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka, khususnya yang berhubungan dengan kedisiplinan, dimana orang tua berusaha keras mengajarkan kepada anak-anak apa yang mereka perlu ketahui dan apa yang harus mereka  kerjakan agar menjadi orang bahagia, percaya diri, dan dapat bertanggung jawab di masyarakat, akan tetapi bukan hanya orang tua yang bertugas menjalankan pendidikan, anak-anak juga mengajarkan kepada orang tua bagaimana harus bersikap di hadapan anak-anak.
Pola asuh orang tua sangat berperan dalam pembentukan karakter anak, yang mana orang tua mendidik dan mengasuh anaknya. Pola asuh orang tua sangat membantu bagaimana peran dan sikap anak sesuai dengan jenis kelaminnya dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Pola asuh orang tua membantu anak mengenal nilai-nilai atau aturan yang ada agar anak mematuhi aturan tersebut dan anak bisa diterima oleh lingkungannya. Selain itu, orang tua juga harus memberikan sebuah kasih sayang terhadap anaknya agar tidak merasa kesepian. Sedangkan menurut Baumrind Maccoby dalam (Syamsu Yusuf, 2010). Beliau membagi pola asuh orang tua ke dalam tiga kategori, diantaranya yaitu :
a.        Demokratis
Orang tua yang dikategorikan ke dalam pola asuh demokratis adalah orang tua yang berusaha untuk mengarahkan anak agar dapat bertingkah laku secara rasional, dengan memberikan penjelasan terlebih dahulu pada anak. Orang tua memberikan penjelasan mengenai tuntutan dan disiplin yang ditetapkan, tetapi tetap menggunakan wewenangnya atau memberikan hukuman jika dianggap perlu. Pola asuh yang bersifat demokratis biasanya menekankan pada suatu cara yang rasional, dan berorientasi pada isu “memberi dan menerima”, yang dapat menghasilkan persesuaian yang masuk akal tanpa kehilangan otonomi dan keaktifan (Baumrind, dalam Friedman, 1998).
b.        Otoriter
Orang tua yang dikategorikan ke dalam pola asuh otoriter yaitu orang tua yang berusaha untuk membentuk, mengendalikan, dan mengevaluasi sikap serta tingkah laku anak berdasarkan standar yang mereka buat, dan pengontrolan terhadap tingkah laku anak melalui pemberian hukuman. Orang tua mewajibkan anak agar patuh dan memiliki rasa hormat kepada orang tuanya. Anak juga tidak diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat, perasaan serta keinginannya pada orang tuanya. Orang tua yang otoriter menggunakan kontrol yang tinggi disertai kehangatan yang rendah. Orang tua suka menghukum secara fisik, memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi, bersikap kaku, cenderung emosional dan bersikap menolak (Baumrind, dalam Yusuf, 2010).
c.         Permisif
Orang tua yang dikategorikan ke dalam pola asuh permisif adalah orang tua yang berusaha untuk menerima, memberikan respon yang positif terhadap tindakan impulsif, keinginan dan tingkah laku anak dengan memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat. Selain itu, orang tua memberikan sedikit tuntutan dan tanggung jawab pada anak dirumah, mengizinkan anak untuk mengatur seluruh aktivitas yang dapat dilakukannya, dan berusaha untuk mengesampingkan kewenangannya sebagai orang tua dengan harapan mendapatkan suatu keputusan yang obyektif. Orang tua permissive menggunakan kontrol yang rendah namun disertai dengan kehangatan yang tinggi. Orang tua menerapkan disiplin yang tidak konsisten dan jarang menghukum anak karena kebanyakan perilaku anak bisa diterima oleh orang tua.
b.      Peran Orang Tua
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Lingkungan yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua (jika ada), serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan tersebut si anak akan mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari. Keluarga juga memiliki fungsi majemuk bagi terciptanya kehidupan sosial dalam masyarakat. Dalam keluarga, diatur hubungan antara anggota-anggotanya sehingga setiap anggota keluarga mempunyai peran dan fungsinya yang jelas. Menurut Kun Maryati (2007:70) peranan adalah perilaku yang diharapkan oleh pihak lain dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya. Status dan peranan tidak dapat dipisahkan karena tidak ada peranan tanpa statuss dam tidak ada status tanpa peranan.
Di dalam suatu keluarga, peran orang tua sangatlah penting bagi seorang anak. Hal tersebut dikarenakan dengan peran yang dimiliki oleh orang tua tersebut maka akan dapat mempengaruhi perilaku anak. Ketika seorang anak ingin berperilaku maka anak tersebut akan menyesuaikan perilakunya dengan perilaku orang-orang di sekitarnya. Apabila orang tua dapat menjalankan peran dengan baik dengan memberikan contoh perilaku-perilaku yang baik dan benar maka akan mempengaruhi anak untuk bertindak atau berperilaku yang sama dengan kedua orang tuanya.
Menurut Soejono Prawiraharja (dalam Kun Maryati, 2007:70) terdapat beberapa fungsi keluarga yaitu melahirkan anak sebagai kelanjutan identitas keluarga, mempertahankan ekonomi keluarga, membesarkan anak, meletakan dasar-dasar sosialisasi, merupakan wadah pendidikan informal, tempat terselenggaranya transmisi (pemindahan) kebudayaan dari generasi ke generasi, dan sebagai tempat rekreasi kehangatan serta kontrol terhadap keluarga. Dengan demikian, orang tua di dalam keluarga merupakan suatu unit yang paling efektif untuk dapat mengendalikan perilaku sang anak dan memberikan pendidikan kepada anak, serta anak dituntut untuk mematuhi segala perintah dan aturan yang diberikan atau dibuat oleh orang tua. Dengan begitu, secara tidak langsung bahwa pola perilaku dan sikap anak dibangun di dalam lingkungan keluarga terutama oleh kedua orang tuanya. Dalam menjalankan perannya, orang tua hendaknya dapat menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anaknya. Dalam keluarga, orang tua harus bisa mendidik anaknya sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat.
Patokan dalam melaksanaan penelitian biasanya berasal dari teori-teori dan penelitian terdahulu yang pernah dilakukan. Penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki, memperluas, dan bahkan memperkuat teori yang sudah ada. Berikut penelitian terdahulu yang sejenis dengan penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1.         Judul penelitian yaitu “Pola Asuh Anak pada Ibu yang Bekerja sebagai Pedagang di Pasar Wage Purwokerto” yang ditulis oleh Mizan Saroni (F1A005074), salah satu mahasiswa di Universitas Jenderal Soedirman yang disahkan pada tahun 2012. Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan oleh ibu yang bekerja di sektor informal yang berdampak terhadap pola asuh anak dan untuk mengetahui dampak ibu bekerja sebagai pedagang terhadap pola asuh anak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, sedangkan metode pengambilan informan yang digunakan adalah purposive sampling, dan metode pengumpulan datanya menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Berkaitan dengan validitas data, dalam penelitian tersebut validitas datanya menggunakan teknik triangulasi dan teknik analisis datanya menggunakan analisis model interaktif. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh ibu rumah tangga di pasar wage yang bekerja sebagai pedagang yang dapat berdampak terhadap pola asuh anak adalah aktivitas kerja. Dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas ibu bekerja sebagai pedagang di pasar Wage terhadap pola asuh anak adalah menyangkut masalah pengasuhan anak yang tidak selalu dapat dilakukan oleh orang tua, terutama sang ibu.
2.         Judul penelitian yaitu “Peran Pengasuhan Orang Tua tehadap Anak Dalam Keluarga Nelayan Desa Tegalkamulyan, Cilacap” yang ditulis oleh Dody Priyatna (F1A009061), salah satu mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang disahkan pada tahun 2014. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah kualitatif deskriptif dengan teknik penentuan informan adalah teknik purposive sampling dan teknik pengumpulan datanya meggunakan wawancara mendalam, obervasi dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan model analisis interaktif dan validitas datanya yang digunakan dalam penelitian tersebut menggunakan teknik triangulasi. Hasil penilitian tersebut menunjukan bahwa peran pengasuhan orang tua terhadap anak dalam keluarga nelayan di desa Tegalkamulyan, Cilacap memberikan dampak yang cukup signifikan bagi anak. Orang tua dalam memberikan pengasuhan terhadap anak lebih cenderung memaksimalkan kedisiplinan dari pada kebebasan anak, sehingga antara kedisipplinan dan kebebasan anak tidak seimbang.
3.         Judul peneliatan yaitu “Pola Asuh Orang Tua pada Anak Tunagrahita di Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1 Yakut, Purwokerto” yang ditulis oleh Fathonah (F1A009070), salah satu mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang disahkan pada tahun 2014. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis datanya mengguankaan model analisis interaktif. Hasil dari penelitian tersebut adalah penerapan pola asuh yang dilakukan orang tua tidak dapat dikategorikan ke dalam jenis tertentu. Pada kenyataannya penerapan pola asuh bukan hanya mencakup satu tindakan saja. Orang tua menyesuaikan keinginan orang tua dan anak dalam penerapan kedispilnan, pola pemberian makanan. Masyarakat juga tidak menunjukkan adanya perlawanan yang berbeda terhadap keluarga yang memiliki anak dengan keterbelakangan mental.
I.          Metodologi dan Metode Penelitian
1.    Metodologi
Keluarga merupakan media sosialisasi pertama bagi anak, dimana seorang anak akan belajar menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dan mengikuti kontruksi sosial yang ada dalam masyarakat berdasarkan sosialisasi yang telah diajarkan orang tuanya. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama ketimbang lembaga pendidikan manapun. Disinilah peran orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Kebanyakan anak akan meniru (imitasi) kelakuan orang tuanya, contohnya anak perempuan yang melihat ibunya sedang memasak maka ia akan cenderung untuk meniru prilaku ibunya dengan cara bermain masak-masakkan. Terkadang seorang anak meniru perilaku orang dewasa, namun ia belum mengerti baik buruk perilaku tersebut. Oleh karena itu, orang tua berperan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku anak serta memberi contoh yang baik pada anak. Pola mengasuh anak dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh sistem norma, nilai, dan adat istiadat yang berlaku didalam masyarakat tersebut. Sehingga setiap orang tua memiliki pemahaman dan keyakinan yang berbeda dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Berdasarkan uraian diatas, bahwa untuk meneliti pola asuh orang tua pada anak dapat dilakukan melalui penelitan kualitatif. Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menyajikan gambaran tentang realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan mendeskripsikan fenomena tersebut.
2.      Metode Penelitian
2.1  Lokasi Penelitian
Peneliti memilih lokasi di Perumahan Griya Bantar Indah Kec. Kembaran, Banyumas. Dengan alasan, masyarakat di Perumahan Griya Bantar Indah tersebut memiliki latar belakang sosial ekonomi, pendidikan dan budaya yang beragam. Sehingga, peneliti tertarik untuk menggali tentang pola asuh orang tua pada anak di perumahan tersebut.
2.2  Sasaran Penelitin dan Teknik Penentuan
Sasaran penelitian ini adalah warga Perumahan Bantar Indah Kec. Kembaran Banyumas. Teknik Penentuan informan pada penelitian ini menggunakan Purposive Sampling. Menurut Nanang Martono (2010:19) Purposive Sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai tujuan yang diharapkan.
2.3  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dilakukan untuk mengumpulkan, mencari, dan memperoleh data dari responden serta informasi yang telah ditentukan. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengambilan dara melalui observasi dan wawancara. Alat pengumpulan data sesuai dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan observasi berupa lembar observasi atau daftar checklist dan panduan wawancara mendalam pada narasumber.
a.      Wawancara ialah teknik pengumpulan data melalui tanya jawab secara lisan antara peneliti dengan informan secara tatap muka atau secara langsung untuk mendapatkan informasi yang mendalam.
b.      Observasi adalah suatu teknik atau metode yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dengan cara terjun langsung ke lokasi penelitian. Dengan kata lain observasi merupakan pengamatan secara cermat dan sistematis pada suatu objek penelitian. Biasanya peneliti akan ikut serta dalam kegiatan dilokasi penelitian.
2.4  Sumber Data
2.4.1        Data Primer
Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif. Menurut S. Nasution data primer adalah data yang dapat di peroleh langsung dari lapangan atau tempat penelitian. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber daya yang di peroleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. Sumber data primer di peroleh dari sejumlah narasumber yang merupakan warga di lingkungan perumahan .
2.4.2        Data Sekunder
Sedangkan data sekunder penulis dapatkan yaitu data pendukung berupa dokumen, hasil studi pustaka literatur, atau foto yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Jadi, data yang didapat tidak secara langsung dari responden atau bisa juga didapatkan melalui dokumen.
2.5  Teknik Analisa Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif yang dijelaskan oleh Miles dan Hubermann. Menurut Miles dan Hubermann (dalam Muhammad Idrus, 2009:246) model interaktif terdiri dari tiga hal utama yaitu reduksi data, penyajian data/model data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagai sesuatu yang jalin-menjalin padaa saat sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar, untuk membangun wawasan umum yang disebut analisis. Dalam hal ini, reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, dan menyusun data dalam suatu cara dimana kesimpulan akhir dapat digammbarkan dan diverifikasikan. Lalu, penyajian data/ model data yaitu suatu kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dan yang terakhir, penarikan kesimpulan/verifikasi yaitu sebuah tahap akhir proses pengumpulan data yang dimaknai sebagai penarikan arti data yang telah ditampilkan dan begitu kesimpulan yang diambil. Dengan begitu, kesimpulan yang telah diambil dapat sebagai pemicu peneliti untuk lebih memperdalam lagi proses observasi dan wawancaranya. Serta, verifikasi ini merupakan hal penting karena peneliti dapat mempertahankan dan menjamin validitas dan reliabilitas hasil temuannya.
2.6  Validasi Data
Pengujian validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Menurut Moleong (2005:330), triangulasi adalah suatu teknik pemeriksaan keabsahan yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk keperuan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzin dalam Moleong (2005:330) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Penelitian ini menggunakan triangulasi dengan sumber data, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara yang berbeda (Bungin, 2008:256-257). Hal ini dilakukan dengan membandingkan data hasil pengamatan dan hasil wawancara.


DAFTAR PUSTAKA

Bungin Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Khairuddin. 1997. Sosiologi Keluarga. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Patilima, Hamid. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Cetakan kedua. Bandung: Alfabeta.

Sugiono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Cetakan ketiga. Bandung: Alfabeta.

Sumber Lain :

Godam64. 2008. Jenis/Macam Tipe Pola Asuh Orangtua Pada Anak & Cara Mendidik/Mengasuh Anak Yang Baik. http://www.organisasi.org/1970/01/jenis-macam-tipe-pola-asuh-orangtua-pada-anak-cara-mendidik-mengasuh-anak-yang-baik.html. diakses pada tanggal 16 Oktober 2014

 

Palupi, Atika Oktaviani, Edy Purwanto, dan Dyah Indah Noviyani. 2013. Pengaruh Religiusitas Terhadap Kenakalan Remaja. journal.unnes.ac.id/sju/index.php/epj/article/download/2580/2370). Diakses pada tanggal 16 Oktober 2014.

Nurhafid, Saras Anindya. 2013. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kenakalan Remaja di Perumahan Kalibaru, Jakarta Utara. lib.ui.ac.id/file?file=digital/20346585S47449saras%20anindya%20nurhafid.pdf. diakses pada 16 Oktober 2014.

Urbaningsun, Hayat Ruhyat. “Pola Asuh Orang Tua dan Pengembangan Keberagaman Anak”, www.academia.edu . diakses pada tanggal 16 Oktober 2014

0 komentar:

Posting Komentar