RANCANGAN METODE PENELITIAN KUALITATIF 1
PERAN ORANG TUA DALAM MENGASUH ANAK
(STUDI TENTANG POLA ASUH ORANG TUA PADA ANAK DI PERUMAHAN GRIYA BANTAR INDAH, KECAMATAN KEMBARAN, BANYUMAS)
A.
Judul
Peran Orang Tua Dalam Mengasuh Anak
(Studi Tentang Pola Asuh Orang Tua Pada Anak di Perumahan Griya Bantar Indah
Kecamatan Kembaran, Banyumas).
B.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini
adalah Sosiologi Keluarga.
C.
Latar Belakang Masalah
Hubungan terkecil dari suatu masyarakat yang memiliki
suatu keterkaitan satu sama lain, biasa disebut dengan keluarga. Keluarga
terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Pengertian
dari keluarga sendiri merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan
berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi sang suami dan istri, putra dan putri, saudara
laki-laki dan saudara perempuan.
Peran sosial
dalam setiap keluarga berbeda-beda, salah satunya peran orang tua dalam
mengasuh anaknya yang menjadi tanggung jawab terpenting bagi perkembangan sikap
dan mental anak dengan cara merawat dan membimbing anak dengan baik dan penuh
perhatian. Sebab, orang tua merupakan sosok yang pertama kali dikenal oleh anak
dan orang tua memberikan tanggapan atas apa yang dilakukan oleh anak mengenai
sisi positif dan negatif. Dalam mendidik anak terdapat lima macam pola asuh
orang tua yang diterapkan kepada anaknya diantaranya: pola asuh otoriter, pola
asuh demokratis, pola asuh temporizer, pola asuh appeasers, dan pola asuh
permisif.
Kenyataan
sekarang ini orang tua cenderung menggunakan pola asuh permisif yang memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak atau istilah yang biasa disebut
dengan “dimanja”. Orang tua biasanya menuruti semua keinginan
anak, apalagi dalam lingkup perkotaan yang kehidupannya dipengaruhi oleh perkembangan
jaman. Orang tua beranggapan bahwa dengan uang yang dimilikinya dapat
memanjakan dan memberikan segala kebutuhan anaknya. Padahal dengan mereka sibuk
bekerja, anak mereka secara tidak langsung kekurangan kasih sayang, perhatian
dan waktu bersama orang tua. Sehingga
dengan sibuknya orang tua bekerja maka peran orang tua terhadap anaknya terabaikan,
mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing bahkan komunikasi diantara
mereka cenderung renggang. Hal ini membuat tindakan kasih sayang orang tua
kepada anaknya berkurang dan bahkan untuk saling memahami satu sama lain sangat
sulit untuk dilakukan.
Ada beberapa kasus mengenai kenakalan
remaja akibat dari salah mendidik atau salah pola asuh orang tua. Kenakalah
remaja adalah
perilaku menyimpang atau melanggar hukum sehingga mengganggu ketertiban dan
ketengan hidup di masyarakat. Kenakalan remaja yang biasa ditemukan bermacam-macam seperti dari
kenakalan ringan seperti
membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar peraturan yang orang
tua berikan, hingga kenakalan berat seperti tawuran, merokok, minum-minuman keras,
mengkonsumsi obat-obatan
terlarang, dan seks bebas. Beberapa kasus yang sering terjadi di Indonesia
adalah salah satunya seks bebas. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ) tahun 2008 menunjukan
data bahwa jumlah remaja di Jakarta yang pernah melakukan hubungan seks pra
nikah sebanyak 42% sedangkan pada tahun 2010 jumlah meningkat menjadi 51%,
kasus hubungan seks pra nikah pada
remaja di kota-kota
besar juga menunjukan jumlah yang tidak berbeda jauh dengan Jakarta, yaitu 54%
di Surabaya, 47% di Bandung, 52% di Medan, dan 37% di Yogyakarta.
Contoh kasus lainnya adalah mengkonsumsi
obat – obatan terlarang / narkoba dan perkelahian antar pelajar seperti yang
dijelaskan bahwa dari
15.000 kasus narkoba selamadua tahun terakhir, 46 % di antaranya dilakukan oleh
remaja (Media Indonesia, 30 Juni, hal; 16). Data di Jakarta tahun 1999 tercatat
157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 2000 meningkat menjadi 183 kasus dengan
menewaskan 10 pelajar, tahun 2001 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13
pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 2002 ada 230 kasus yang menewaskan
15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan
37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban
cenderung meningkat.Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga
perkelahian di tiga tempat sekaligus (Tambunan, dalam e-psikologi, 2002).
Sedangkan dari persensentase yang didapatkan, tindak kriminal di kabupaten
Sidoarjo semakin meningkat. Dari tahun 51,43 % pada tahun 2007 menjadi 55,27 %
di tahun 2008 atau naik sebesar 3.84%. Semua kenakalan-kenakalan yang
dilakukan oleh remaja tersebut tidak luput dari pola asuh yang diberikan oleh
orang tuannya. Sangat mungkin kiranya jika kenakalan tersebut dilakukan karna
kurangnya perhatian yang diberikan oleh orang tuannya atau mungkin remaja
tersebut telah di didik sedemikian keras sehingga anak tersebut menjadi membangkang karena terlalu
dikekang.
Dari kasus-kasus kenakalan remaja yang terjadi
tersebut yang timbul dari kelalaian orang tua dalam mengasuh dan mendidik tersebut
kami tertarik untuk melakukan penelitian terhadap masalah tersebut. Kami
tertarik untuk meneliti tentang seperti apa pola asuh yang diberikan oleh orang tua pada anak di suatu perumahan. Sehingga, penelitian ini
kami beri judul dengan “Peran Orang Tua dalam Mengasuh Anak (Studi Tentang Pola
Asuh Orang Tua pada Anak di Perumahan Griya Bantar Indah, Kecamatan Kembaran,
Banyumas)”
D.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana peran orang tua dalam mengasuh anak
di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas?
2. Bagaimana pola asuh orang tua pada anak di
Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas?
E.
Tujuan Penelitian
1. Untuk Mengetahui peran orang tua dalam mengasuh
anak di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas.
2. Untuk Mengetahui pola asuh orang tua pada anak
di Perumahan Griya Bantar Indah Kecamatan Kembaran, Banyumas.
F.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Penelitian
ini diharapkan dapat menyumbang suatu manfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya aplikasi pada Sosiologi keluarga dalam meningkatkan
analisis pembaca mengenai peran orangtua dalam mengasuh anak. Penelitian ini
juga diharapkan dapat menambah referensi terhadap disiplin ilmu terkait yaitu
Sosiologi yang mengkaji kehidupan sosial manusia, dan memperluas ilmu
pengetahuan mengenai peran dan pola asuh orang tua dalam mengasuh anak.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah
informasi dan masukan bagi masyarakat pada umumnya, khususnya pada orang tua
yang memiliki peran dalam mengasuh dan mendidik anak, serta memotivasi kepada
orang tua agar menjalankan peranannya dengan baik.
G.
Landasan Teoritik
Dalam realitas
kehidupan, individu merupakan bagian dari sebuah keluarga. Menurut Khairuddin
(1997 : 4), keluarga adalah suatu kelompok primer yang terpenting dalam
masyarakat, dan di dalam sebuah keluarga terdapat seorang ayah, ibu, dan anak.
Selain itu, setiap individu di dalam keluarga mempunyai sebuah peran yang harus
dimainkan oleh mereka. Peran yaitu sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap
individu berdasarkan status yang dimilikinya. Disini ibu dan ayah memiliki
peranan kepada anaknya sebagai orang tua. Salah satu peranan orang tua kepada
anaknya yaitu melakukan pembentukan kepribadian
anak-anaknya memalui pola asuh yang mereka terapkan.
Berkaitan
dengan penjabaran diatas, peneliti menggunakan paradigma definisi sosial, dalam
paradigma definisi sosial terdapat tiga teori diantaranya teori aksi (action theory), interaksionisme
simbolik (simbolik interactionism) dan fenomenologi (phenomenology). Dengan
adanya tiga teori tersebut, peneliti mengambil salah satu teori dari ketiga
teori diatas yaitu teori interaksionisme simbolik karena orang tua melakukan
pola asuh melalui interaksi dengan anak. Interaksi-interaksi yang diberikan
orang tua melalui sebuah symbol seperti adanya pelukan, pukulan, pujian, dan
bentuk lainnya. Simbol-simbol tersebut merupakan hal-hal yang dapat
mempengaruhi kepribadian anak. Penyesuaian anak di dalam masyarakat dipengaruhi
oleh orangtua. Hal tersebut dikarenakan orang tua berperan sebagai media
sosialisasi pertama yang paling penting bagi anak. Misalnya, pemberian
sosialisasi yang baik terhadap anak akan mempermudah anak dalam menyesuaikan
dirinya di dalam masyarakat nantinya, sedangkan sosialisasi yang buruk terhadap
anak akan membuat anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri di dalam
masyarakat.
H.
Tinjauan Pustaka
a.
Pola Asuh Orang
Tua
Pola
asuh orang tua merupakan pola perilaku
yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu.
Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif maupun positif,
dimana seorang anak akan beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga dapat
menanamkan sikap disiplin dan mandiri. Menurut Edward (2006), pola asuh adalah
suatu pengajaran orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka, khususnya yang
berhubungan dengan kedisiplinan, dimana orang tua berusaha keras mengajarkan
kepada anak-anak apa yang mereka perlu ketahui dan apa yang harus mereka kerjakan agar menjadi orang bahagia, percaya
diri, dan dapat bertanggung jawab di masyarakat, akan tetapi bukan hanya orang
tua yang bertugas menjalankan pendidikan, anak-anak juga mengajarkan kepada
orang tua bagaimana harus bersikap di hadapan anak-anak.
Pola asuh
orang tua sangat berperan dalam pembentukan karakter anak, yang mana orang tua mendidik
dan mengasuh anaknya. Pola asuh orang tua sangat membantu bagaimana peran dan sikap
anak sesuai dengan jenis kelaminnya dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Pola asuh orang tua membantu anak mengenal nilai-nilai atau aturan yang ada
agar anak mematuhi aturan tersebut dan anak bisa diterima oleh lingkungannya. Selain
itu, orang tua juga harus memberikan sebuah kasih sayang terhadap anaknya agar
tidak merasa kesepian. Sedangkan menurut
Baumrind Maccoby dalam (Syamsu Yusuf, 2010). Beliau membagi pola asuh orang tua
ke dalam tiga kategori, diantaranya yaitu :
a.
Demokratis
Orang tua yang
dikategorikan ke dalam pola asuh demokratis adalah orang tua yang berusaha
untuk mengarahkan anak agar dapat bertingkah laku secara rasional, dengan
memberikan penjelasan terlebih dahulu pada anak. Orang tua memberikan
penjelasan mengenai tuntutan dan disiplin yang ditetapkan, tetapi tetap
menggunakan wewenangnya atau memberikan hukuman jika dianggap perlu. Pola asuh
yang bersifat demokratis biasanya menekankan pada suatu cara yang rasional, dan
berorientasi pada isu “memberi dan menerima”, yang dapat menghasilkan
persesuaian yang masuk akal tanpa kehilangan otonomi dan keaktifan (Baumrind,
dalam Friedman, 1998).
b.
Otoriter
Orang tua yang
dikategorikan ke dalam pola asuh otoriter yaitu orang tua yang berusaha untuk
membentuk, mengendalikan, dan mengevaluasi sikap serta tingkah laku anak
berdasarkan standar yang mereka buat, dan pengontrolan terhadap tingkah laku
anak melalui pemberian hukuman. Orang tua mewajibkan anak agar patuh dan
memiliki rasa hormat kepada orang tuanya. Anak juga tidak diberikan kesempatan
untuk mengemukakan pendapat, perasaan serta keinginannya pada orang tuanya.
Orang tua yang otoriter menggunakan kontrol yang tinggi disertai kehangatan
yang rendah. Orang tua suka menghukum secara fisik, memerintah anak untuk
melakukan sesuatu tanpa kompromi, bersikap kaku, cenderung emosional dan
bersikap menolak (Baumrind, dalam Yusuf, 2010).
c.
Permisif
Orang tua yang
dikategorikan ke dalam pola asuh permisif adalah orang tua yang berusaha untuk
menerima, memberikan respon yang positif terhadap tindakan impulsif, keinginan
dan tingkah laku anak dengan memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat. Selain
itu, orang tua memberikan sedikit tuntutan dan tanggung jawab pada anak
dirumah, mengizinkan anak untuk mengatur seluruh aktivitas yang dapat
dilakukannya, dan berusaha untuk mengesampingkan kewenangannya sebagai orang
tua dengan harapan mendapatkan suatu keputusan yang obyektif. Orang tua
permissive menggunakan kontrol yang rendah namun disertai dengan kehangatan
yang tinggi. Orang tua menerapkan disiplin yang tidak konsisten dan jarang
menghukum anak karena kebanyakan perilaku anak bisa diterima oleh orang tua.
b. Peran Orang Tua
Keluarga merupakan
unit sosial terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Lingkungan yang
berhubungan dengan anak adalah orang tuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua
(jika ada), serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui
lingkungan tersebut si anak akan mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan
hidup yang berlaku sehari-hari. Keluarga juga memiliki fungsi majemuk bagi
terciptanya kehidupan sosial dalam masyarakat. Dalam keluarga, diatur hubungan
antara anggota-anggotanya sehingga setiap anggota keluarga mempunyai peran dan
fungsinya yang jelas. Menurut Kun Maryati (2007:70) peranan adalah perilaku
yang diharapkan oleh pihak lain dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai
dengan status yang dimilikinya. Status dan peranan tidak dapat dipisahkan
karena tidak ada peranan tanpa statuss dam tidak ada status tanpa peranan.
Di dalam
suatu keluarga, peran orang tua sangatlah penting bagi seorang anak. Hal
tersebut dikarenakan dengan peran yang dimiliki oleh orang tua tersebut maka
akan dapat mempengaruhi perilaku anak. Ketika seorang anak ingin berperilaku
maka anak tersebut akan menyesuaikan perilakunya dengan perilaku orang-orang di
sekitarnya. Apabila orang tua dapat menjalankan peran dengan baik dengan
memberikan contoh perilaku-perilaku yang baik dan benar maka akan mempengaruhi
anak untuk bertindak atau berperilaku yang sama dengan kedua orang tuanya.
Menurut Soejono
Prawiraharja (dalam Kun Maryati, 2007:70) terdapat beberapa fungsi keluarga
yaitu melahirkan anak sebagai kelanjutan identitas keluarga, mempertahankan
ekonomi keluarga, membesarkan anak, meletakan dasar-dasar sosialisasi,
merupakan wadah pendidikan informal, tempat terselenggaranya transmisi (pemindahan) kebudayaan dari
generasi ke generasi, dan sebagai tempat rekreasi kehangatan serta kontrol
terhadap keluarga. Dengan demikian, orang tua di dalam keluarga merupakan suatu
unit yang paling efektif untuk dapat mengendalikan perilaku sang anak dan
memberikan pendidikan kepada anak, serta anak dituntut untuk mematuhi segala
perintah dan aturan yang diberikan atau dibuat oleh orang tua. Dengan begitu,
secara tidak langsung bahwa pola perilaku dan sikap anak dibangun di dalam
lingkungan keluarga terutama oleh kedua orang tuanya. Dalam menjalankan
perannya, orang tua hendaknya dapat menanamkan nilai-nilai positif kepada
anak-anaknya. Dalam keluarga, orang tua harus bisa mendidik anaknya sesuai
dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat.
Patokan
dalam melaksanaan penelitian biasanya berasal dari teori-teori dan
penelitian terdahulu yang pernah dilakukan.
Penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki, memperluas, dan bahkan memperkuat teori yang
sudah ada. Berikut penelitian terdahulu yang
sejenis dengan penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1.
Judul penelitian
yaitu “Pola Asuh Anak pada Ibu yang Bekerja sebagai Pedagang di Pasar Wage
Purwokerto” yang ditulis oleh Mizan Saroni (F1A005074), salah satu mahasiswa di
Universitas Jenderal Soedirman yang disahkan pada tahun 2012. Tujuan penelitian
tersebut untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan oleh ibu yang bekerja di
sektor informal yang berdampak terhadap pola asuh anak dan untuk mengetahui
dampak ibu bekerja sebagai pedagang terhadap pola asuh anak. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode kualitatif, sedangkan metode pengambilan informan
yang digunakan adalah purposive sampling,
dan metode pengumpulan datanya menggunakan wawancara mendalam, observasi dan
dokumentasi. Berkaitan dengan validitas data, dalam penelitian tersebut
validitas datanya menggunakan teknik triangulasi dan teknik analisis datanya
menggunakan analisis model interaktif. Hasil penelitian tersebut menunjukan
bahwa aktivitas yang dilakukan oleh ibu rumah tangga di pasar wage yang bekerja
sebagai pedagang yang dapat berdampak terhadap pola asuh anak adalah aktivitas
kerja. Dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas ibu bekerja sebagai pedagang di
pasar Wage terhadap pola asuh anak adalah menyangkut masalah pengasuhan anak
yang tidak selalu dapat dilakukan oleh orang tua, terutama sang ibu.
2.
Judul penelitian
yaitu “Peran Pengasuhan Orang Tua tehadap Anak Dalam Keluarga Nelayan Desa
Tegalkamulyan, Cilacap” yang ditulis oleh Dody Priyatna (F1A009061), salah satu
mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang disahkan pada tahun 2014. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah kualitatif
deskriptif dengan teknik penentuan informan adalah teknik purposive sampling dan teknik pengumpulan datanya meggunakan
wawancara mendalam, obervasi dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya
menggunakan model analisis interaktif dan validitas datanya yang digunakan dalam
penelitian tersebut menggunakan teknik triangulasi. Hasil penilitian tersebut
menunjukan bahwa peran pengasuhan orang tua terhadap anak dalam keluarga
nelayan di desa Tegalkamulyan, Cilacap memberikan dampak yang cukup signifikan
bagi anak. Orang tua dalam memberikan pengasuhan terhadap anak lebih cenderung
memaksimalkan kedisiplinan dari pada kebebasan anak, sehingga antara
kedisipplinan dan kebebasan anak tidak seimbang.
3.
Judul peneliatan
yaitu “Pola Asuh Orang Tua pada Anak Tunagrahita di Sekolah Luar Biasa bagian C
dan C1 Yakut, Purwokerto” yang ditulis oleh Fathonah (F1A009070), salah satu
mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang disahkan pada tahun 2014. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah menggunakan
pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis datanya mengguankaan model
analisis interaktif. Hasil dari penelitian tersebut adalah penerapan pola asuh
yang dilakukan orang tua tidak dapat dikategorikan ke dalam jenis tertentu.
Pada kenyataannya penerapan pola asuh bukan hanya mencakup satu tindakan saja.
Orang tua menyesuaikan keinginan orang tua dan anak dalam penerapan
kedispilnan, pola pemberian makanan. Masyarakat juga tidak menunjukkan adanya
perlawanan yang berbeda terhadap keluarga yang memiliki anak dengan keterbelakangan
mental.
I.
Metodologi dan Metode Penelitian
1. Metodologi
Keluarga merupakan media sosialisasi pertama
bagi anak, dimana seorang anak akan belajar menyesuaikan diri terhadap
lingkungannya dan mengikuti kontruksi sosial yang ada dalam masyarakat
berdasarkan sosialisasi yang telah diajarkan orang tuanya. Keluarga merupakan
lingkungan pendidikan pertama dan utama ketimbang lembaga pendidikan manapun.
Disinilah peran orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter seorang
anak. Kebanyakan anak akan meniru (imitasi) kelakuan orang tuanya, contohnya
anak perempuan yang melihat ibunya sedang memasak maka ia akan cenderung untuk
meniru prilaku ibunya dengan cara bermain masak-masakkan. Terkadang seorang
anak meniru perilaku orang dewasa, namun ia belum mengerti baik buruk perilaku
tersebut. Oleh karena itu, orang tua berperan untuk mengawasi dan mengendalikan
perilaku anak serta memberi contoh yang baik pada anak. Pola mengasuh anak
dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh sistem norma, nilai, dan adat istiadat
yang berlaku didalam masyarakat tersebut. Sehingga setiap orang tua memiliki
pemahaman dan keyakinan yang berbeda dalam mengasuh dan mendidik anaknya.
Berdasarkan uraian diatas, bahwa untuk meneliti pola asuh orang tua pada anak
dapat dilakukan melalui penelitan kualitatif. Metode penelitian yang akan
digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk
menyajikan gambaran tentang realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan
mendeskripsikan fenomena tersebut.
2. Metode Penelitian
2.1 Lokasi Penelitian
Peneliti
memilih lokasi di Perumahan Griya Bantar Indah Kec. Kembaran, Banyumas. Dengan
alasan, masyarakat di Perumahan Griya Bantar Indah tersebut memiliki latar
belakang sosial ekonomi, pendidikan dan budaya yang beragam. Sehingga, peneliti
tertarik untuk menggali tentang pola asuh orang tua pada anak di perumahan
tersebut.
2.2 Sasaran Penelitin dan Teknik Penentuan
Sasaran
penelitian ini adalah warga Perumahan Bantar Indah Kec. Kembaran Banyumas. Teknik
Penentuan informan pada penelitian ini menggunakan Purposive Sampling. Menurut Nanang Martono (2010:19) Purposive Sampling merupakan teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai tujuan yang diharapkan.
2.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data adalah cara-cara yang dilakukan untuk mengumpulkan, mencari,
dan memperoleh data dari responden serta informasi yang telah ditentukan. Untuk
memperoleh data dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengambilan
dara melalui observasi dan wawancara. Alat pengumpulan data sesuai dengan teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan observasi
berupa lembar observasi atau daftar checklist
dan panduan wawancara mendalam pada narasumber.
a. Wawancara ialah teknik pengumpulan data
melalui tanya jawab secara lisan antara peneliti dengan informan secara tatap
muka atau secara langsung untuk mendapatkan informasi yang mendalam.
b. Observasi adalah suatu teknik atau metode yang
dilakukan peneliti untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dengan cara terjun
langsung ke lokasi penelitian. Dengan kata lain observasi merupakan pengamatan
secara cermat dan sistematis pada suatu objek penelitian. Biasanya peneliti
akan ikut serta dalam kegiatan dilokasi penelitian.
2.4 Sumber Data
2.4.1
Data Primer
Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif. Menurut
S. Nasution data primer adalah data yang dapat di peroleh langsung dari lapangan
atau tempat penelitian. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam
penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan
merupakan sumber daya yang di peroleh dari lapangan dengan mengamati atau
mewawancarai. Sumber data primer di peroleh dari sejumlah narasumber yang
merupakan warga di lingkungan perumahan .
2.4.2
Data Sekunder
Sedangkan
data sekunder penulis dapatkan yaitu
data pendukung
berupa dokumen, hasil studi pustaka literatur, atau foto yang berkaitan dengan
permasalahan penelitian. Jadi, data yang didapat tidak secara langsung dari
responden atau bisa juga didapatkan melalui dokumen.
2.5 Teknik Analisa Data
Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif yang
dijelaskan oleh Miles dan Hubermann. Menurut Miles dan Hubermann (dalam
Muhammad Idrus, 2009:246) model interaktif terdiri dari tiga hal utama yaitu
reduksi data, penyajian data/model data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi
sebagai sesuatu yang jalin-menjalin padaa saat sebelum, selama, dan sesudah
pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar, untuk membangun wawasan umum yang
disebut analisis. Dalam hal ini, reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang
mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, dan menyusun data dalam suatu cara
dimana kesimpulan akhir dapat digammbarkan dan diverifikasikan. Lalu, penyajian
data/ model data yaitu suatu kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan
pendeskripsian kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dan yang terakhir,
penarikan kesimpulan/verifikasi yaitu sebuah tahap akhir proses pengumpulan
data yang dimaknai sebagai penarikan arti data yang telah ditampilkan dan
begitu kesimpulan yang diambil. Dengan begitu, kesimpulan yang telah diambil
dapat sebagai pemicu peneliti untuk lebih memperdalam lagi proses observasi dan
wawancaranya. Serta, verifikasi ini merupakan hal penting karena peneliti dapat
mempertahankan dan menjamin validitas dan reliabilitas hasil temuannya.
2.6 Validasi Data
Pengujian
validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Menurut
Moleong (2005:330), triangulasi adalah suatu teknik pemeriksaan keabsahan yang
memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk keperuan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzin dalam Moleong (2005:330)
membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan
penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Penelitian ini menggunakan
triangulasi dengan sumber data, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek
baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara
yang berbeda (Bungin, 2008:256-257). Hal ini dilakukan dengan membandingkan
data hasil pengamatan dan hasil wawancara.
DAFTAR PUSTAKA
Bungin
Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Khairuddin.
1997. Sosiologi Keluarga. Cetakan
Pertama. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif
Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Patilima,
Hamid. 2007. Metode Penelitian Kualitatif.
Cetakan kedua. Bandung: Alfabeta.
Sugiono.
2007. Memahami Penelitian Kualitatif.
Cetakan ketiga. Bandung: Alfabeta.
Sumber Lain :
Godam64. 2008. Jenis/Macam Tipe Pola Asuh Orangtua Pada Anak & Cara
Mendidik/Mengasuh Anak Yang Baik. http://www.organisasi.org/1970/01/jenis-macam-tipe-pola-asuh-orangtua-pada-anak-cara-mendidik-mengasuh-anak-yang-baik.html.
diakses pada tanggal 16 Oktober 2014
Palupi, Atika Oktaviani, Edy Purwanto, dan Dyah Indah
Noviyani. 2013. Pengaruh Religiusitas Terhadap Kenakalan Remaja. journal.unnes.ac.id/sju/index.php/epj/article/download/2580/2370). Diakses pada tanggal 16 Oktober 2014.
Nurhafid, Saras Anindya. 2013. Hubungan Pola Asuh
Orang Tua Terhadap Kenakalan Remaja di Perumahan Kalibaru, Jakarta Utara. lib.ui.ac.id/file?file=digital/20346585S47449saras%20anindya%20nurhafid.pdf. diakses
pada 16 Oktober 2014.
Urbaningsun, Hayat Ruhyat. “Pola Asuh Orang Tua dan
Pengembangan Keberagaman Anak”, www.academia.edu . diakses pada tanggal 16 Oktober 2014

0 komentar:
Posting Komentar