Sabtu, 11 Oktober 2014

Fungsionalisme Struktural - Robert K. Merton

FUNGSIONALISME STRUKTURAL
Robert K. Merton
A.   Pengantar
Struktur merupakan bagian-bagian yang terdiri dari fungsi-fungsi sosial atau mekanisme yang dibentuk oleh masyarakat meliputi peran dan status masyarakat. Struktur juga dapat dikatakan sebagai organisme biologis karena jika ada bagian dari struktur tersebut tidak berfungsi maka struktur tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Struktur sosial adalah suatu konsep definisi dalam ilmu-ilmu sosial. Istilah struktur sosial digunakan sebagai pandangan umum untuk menggambarkan sebuah entitas atau kelompok masyarakat yang berhubungan satu sama lain, yaitu pola yang relatif dan hubungannya di dalam sistem sosial, atau kepada isntitusi sosial dan norma-norma menjadi penting dalam sistem sosial tersebut sebagai landasan masyarakat untuk berperilaku dalam sistem sosial tersebut.
Teori fungsionalisme struktural menyatakan bahwa masyarakat adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian dan struktur-struktur yang saling berkaitan dan saling membutuhkan keseimbangan, fungsionalisme struktural lebih mengacu pada keseimbangan. Pelopor teori ini adalah Robert K. Merton, beliau berpendapat bahwa obyek analisa sosiologi adalah fakta sosial, seperti proses sosial, organisasi kelompok, dan pengendali sosial. Suatu pranata atau sistem tertentu bisa dikatakan fungsional bagi suatu unit sosial tertentu, dan sebaliknya, suatu institusi juga bisa bersifat disfungsional bagi unit sosial yang lain. Penganut teori fungsional ini memandang segala pranata sosial yang ada dalam masyarakat itu bersifat fungsional dalam artian positif dan negatif.
B.   Permasalahan / Rumusan Masalah
Bagaimana definisi fungsional struktural menurut  Robert K. Merton ?
C.   Pembahasan
Robert K. Merton, (4 Juli 1910 - 23 Februari 2003) Sosiolog asal Amerika ini mungkin dianggap lebih dari ahli teori lainnya yang telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas serta seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas mengenai teori-teori fungsionalisme. Ia mengakui bahwa pendekatan ini telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis, ia juga mengakui bahwa fungsionalisme struktural mungkin tidak akan mampu mengatasi seluruh masalah sosial. Pada saat yang sama Merton tetap sebagai pelindung setia dari analisa fungsional, yang dinyatakannya mampu melahirkan ”suatu masalah yang saya anggap menarik dan cara berfikir yang saya anggap lebih efektif dibanding dengan cara berfikir lain yang pernah saya temukan”. (Merton, 1975: 30)
Model analisis fungsional Merton merupakan hasil perkembangan pengetahuannya yang menyeluruh tentang ahli-ahli teori klasik yang menggunakan penulis besar seperti Max Weber. Pengaruh Weber dapat dilihat dalam batasan Merton tentang birokrasi. Mengikuti Weber, Merton (1957: 195-196) mengamati beberapa hal berikut di dalam organisasi birokrasi modern:
1.      Birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal.
2.      Ia meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas.
3.      Kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi.
4.      Jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokrasi.
5.      Status-status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkis.
6.      Berbagai kewajiban serta hak-hak d dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci.
7.      Otoritas pada jabatan, bukan pada orang.
8.      Hubungan-hubungan antara orang-orang diabtasi secara formal.
Merton memulai analisa fungsionalnya dengan menunjukkan perbendaharaan yang tidak tepat serta beberapa asumsi atau postulat kabur yang terkandung dalam teori fungsionalisme. Merton mengeluh terhadap kenyataan bahwa “sebuah istilah terlalu sering digunakan untuk melambangkan konsep-konsep yang berbeda-beda, seperti halnya dengan konsep yang sama digunakan sebagai simbol dari istilah-istilah yang berbeda”.
Merton mengutip tiga postulat yang dapat di dalam analisa fungsional yaitu sebagai berikut :
1.      Postulat tentang Kesatuan Fungsional masyarakat yang adapt dibatasi sebagai “suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerjasama dalam suatu tingkat keselarasan atau kosistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat dibatasi atau diatur”. Merton menegaskan bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari suatu masyarakat adalah “bertentangan dengan fakta”. Sebagai contoh seseorang mengutip beberapa kebiasaan masyarakat yang dapat bersifat fungsional bagi suatu kelompok (menunjang integrasi dan kohesi suatu kelompok) akan tetapi disfungsional (mempercepat kehancuran) bagi kelompok lain.
2.      Postulat Fungsionalisme Universal, berkaitan dengan postulat pertama. Menurut Merton, fungsionalisme universal menganggap bahwa “seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif”. Sebagaimana yang sudah diketahui, Merton memperkenalkan konsep difungsi maupun fungsi positif. Beberapa perilaku sosial jelas bersifat disfungsional. Merton menganjurkan agar elemen-elemen kultural seharusnya dipertimbangkan menurut kriteria keseimbangan konsekuensi-konsekuensi fungsional (bet balance of functional consequences), yang menimbang fungsi positif terhadap fungsi negatif. Sehubungan dengan kasus agama di Irlandia Utara tadi seorang fungsionalis harus mencoba mengkaji fungsi positif maupun negatifnya, dan kemudian menetapkan apakah keseimbangan diantara keduanya lebih menunjuk pada fungsi negatif atau positif.
3.      Postulat Indispensability, ia menyatakan bahwa “dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide, obyek materil, dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang ahrus dijalankan, dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan. Menurut Merton postulat ini masih kabur. Belum jelas apakah fungsi (suatu kebutuhan sosial, seperti reproduksi anggota-anggota baru) atau item (suatu norma, seperti keluarga batih), merupakan suatu keharusan. Merton menulis, pendek kata postulat indispensability sebagaimana yang sering dinyatakan mengandung dua pernyataan yang berkaitan, tetapi dapat dibedakan satu sama lain. Pertama, bahwa ada beberapa fungsi tertentu yang bersifat mutlak dalam penegrtian, bahwa kecuali apabila mereka dijalankan, maka masyarakat (atau kelompok maupun individu) tidak akan ada.
Robert K. Merton mencoba menjelaskan penyimpangan melalui struktur sosial. Menurut teori ini, struktur sosial bukan hanya menghasilkan perilaku yang konformis saja, tetapi juga menghasilkan perilaku menyimpang. Merton mengemukakan tipologi cara-cara adaptasi terhadap situasi, yaitu konformitas, inovasi, ritualisme, pengasingan diri, dan pemberontakan (perilaku menyimpang).
Komformitas, ini merupakan perilaku yang mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut (cara konvensional dan melembaga). Maksudnya adalah cara dijalankan dan ends atau goals juga dijalankan. Contohnya yaitu seorang anak belajar dengan sungguh-sungguh agar nilai ulangannya bagus.
Inovasi, merupakan perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat, tetapi memakai cara yang dilarang oleh masayarakat (termasuk tindak kriminal). Contohnya yaitu untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM), Erik tidak mengikuti ujian, melainkan melalui calo dan siswa ingin mendapatkan nilai bagus dalam ujian dia melakukan tindakan mencontek atau mencari bocoran jawaban.
Ritualisme adalah perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya. Namun masih tetap berpegangan pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat, dalam arti ritual atau upacara dan perayaan masih diselenggarakan tapi maknanya telah hilang, Contohnya yaitu Mita tidak mempunyai keahlian atau keterampilan di bidang komputer, tetapi Mita terus berusaha untuk mendapatkan ijazah itu agar diterima kerja di perusahaan asing.
Pengunduran/Pengasingan Diri, yaitu meninggalkan, baik tujuan konvensional maupun cara pencapaiannya yang konvensional, sebagaimana yang dilakukan oleh pecandu obat bius, pemabuk, gelandangan maupun orang-orang gagal lainnya. Contohnya yaitu tindakan siswa yang membakar dirinya sendiri karena tidak lulus Ujian Akhir Nasional. Dalam pengasingan diri juga terdapat Retritsm. Orang yang menjalankan retritism adalah Anomi (tidak punya nilai). Retiritism adalah masyarakat tidak mampu memaksa individu untuk melakukan sesuatu. Individu yang teranomi berkumpul, maka akan membentuk suatu kelompok. Yang biasa disebut dengan kelompok belajar.
Pemberontakan (Rebellism), yaitu penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai dengan upaya untuk melembagakan tujuan dan cara baru, misalnya para reformator agama. Contohnya yaitu pemberontakan G 30S/PKI yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis.
Merton juga mengemukakan mengenai fungsi manifest dan fungsi laten. Fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, laten adalah yang tidak dikehendaki. Maka dalam stuktur yang ada, hal-hal yang tidak relevan juga disfungsi laten dipengaruhi secara fungsional dan disfungsional. Merton menunjukan bahwa suatu struktur disfungsional akan selalu ada. Dalam teori ini Merton dikritik oleh Colim Campbell, bahwa pembedaan yang dilakukan Merton dalam fungsi manifest dan laten, menunjukan penjelasan Merton yang begitu kabur dengan berbagari cara. Dalam hal ini, Merton tidak secara tepat mengintegrasikan teori tindakan dengan fungsionalisme. Hal ini, berimplikasi pada ketidakcocokkan antara intersionalitas dengan fungsionalisme structural. Merton terlalu naïf dalam mengedepankan idealismenya tentang struktur dan dengan beraninya dia mengemukakan dia beraliran fungsionalis, tapi dia pun mengkritik akar pemikiran yang mendahuluinya.
Teori Fungsionalisme Struktural yang dikemukakan oleh Robert K. Merton memiliki perbedaan apabila dibandingkan dengan pemikiran pendahulu dan gurunya, yaitu Talcott Parsons. Apabila Parsons dalam teorinya lebih menekankan pada orientasi subjektif individu dalam perilaku maka Merton menitikberatkan pada konsekuensi-konsekuensi objektif dari individu dalam perilaku. Menurut Merton, konsekuensi-konsekuensi objektif dari individu dalam perilaku itu ada yang mengarah pada integrasi dan keseimbangan (fungsi manifest), akan tetapi ada pula konsekuensi-konsekuensi objektif yang tidak diketahui. Oleh karena itu, menurut pendapatnya konsekuensi-konsekuensi objek dari individu dalam perilaku tersebut ada yang bersifat fungsional dan ada pula yang bersifat disfungsional.
Anggapan yang demikian itu merupakan ciri khas yang membedakan antara pendekatan Robert K. Merton dengan pendekatan fungsionalisme struktural yang lainnya. perlu diketahui bahwa Teori Fungsional Taraf Menengah yang ia cetuskan tersebut, merupakan pendekatan yang sesuai untuk meneliti hal-hal yang bersifat kecil atau khusus dan bersifat empiris dalam sosiologi.
D.   Kesimpulan
Merton telah menghabiskan karir sosiologinya dalam mempersiapkan dasar struktur fungsional untuk karya-karya sosiologis yang lebih awal dan dalam mengajukan model atau paradigma bagi analisa struktural. Dia menolak postulat-postulat fungsionalisme yang masih emntah, yang menyebabkan paham kesatuan masyarakat yang fungsional, fungsionalisme universal, dan indespensability. Merton mengetengahkan konsep disfungsi, alternatif fungsional dan konsekuensi keseimbangan fungsional, serta fungsi manifes dan laten, yang dirangkainya kedalam suatu paradigma fungsionalis. Walaupun kedudukan model ini berada diatas postulat-postulat fungsionalisme yang lebih awal, tetapi kelemahannya masih tetap ada. Masyarakat dilihat sebagai keseluruhan yang lebih besar dan berbeda dengan bagian-bagiannya. Individu dilihat dalam kedudukan abstrak, sebagai pemilik status dan peranan yang merupakan struktur.
Beberapa teori Merton yang terungkap dari tiga postulat menjelaskan tentang kesatuan fungsional masyarakat yang dibatasi sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerjasama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang memadai. Fungsionalisme universal menyatakan bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif, meskipun beberapa perilaku sosial cenderung bersifat disfungsional. Analisis terakhir dalam postulat indispensability menegaskan bahwa dalam setiap peradaban, setiap kebiasaan, ide, obyek material dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang harus dijalankan, karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan sistem secara keseluruhan. Merton sendiri mengkritisi postulatnya dengan pernyataan bahwa kita tidak mungkin mengharapkan terjadinya integrasi masyarakat secara sempurna.


3 komentar:

Ulfatun Jami'ah mengatakan...

maaf sumbernya bisa di cantumkan ngga?

Unknown mengatakan...

Ngga

Anonim mengatakan...

Borgata: Your Casino | Thauberbet
Borgata is Atlantic City's top casino and gaming destination offering an unparalleled sbobet ทางเข้า gaming experience. Located in the heart of Atlantic City, ボンズ カジノ

Posting Komentar