FUNGSIONALISME
STRUKTURAL
Robert K. Merton
A. Pengantar
Struktur merupakan bagian-bagian yang terdiri
dari fungsi-fungsi sosial atau mekanisme yang dibentuk oleh masyarakat meliputi
peran dan status masyarakat. Struktur juga dapat dikatakan sebagai organisme biologis
karena jika ada bagian dari struktur tersebut tidak berfungsi maka struktur
tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Struktur sosial adalah suatu
konsep definisi dalam ilmu-ilmu sosial. Istilah struktur sosial digunakan
sebagai pandangan umum untuk menggambarkan sebuah entitas atau kelompok
masyarakat yang berhubungan satu sama lain, yaitu pola yang relatif dan
hubungannya di dalam sistem sosial, atau kepada isntitusi sosial dan
norma-norma menjadi penting dalam sistem sosial tersebut sebagai landasan
masyarakat untuk berperilaku dalam sistem sosial tersebut.
Teori fungsionalisme struktural menyatakan bahwa masyarakat adalah
suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian dan struktur-struktur yang saling
berkaitan dan saling membutuhkan keseimbangan, fungsionalisme struktural lebih
mengacu pada keseimbangan.
Pelopor
teori ini adalah Robert K. Merton, beliau berpendapat bahwa obyek analisa
sosiologi adalah fakta sosial, seperti proses sosial, organisasi kelompok, dan
pengendali sosial. Suatu pranata atau sistem tertentu bisa dikatakan fungsional
bagi suatu unit sosial tertentu, dan sebaliknya, suatu institusi juga bisa
bersifat disfungsional bagi unit sosial yang lain. Penganut teori fungsional
ini memandang segala pranata sosial yang ada dalam masyarakat itu bersifat
fungsional dalam artian positif dan negatif.
B. Permasalahan / Rumusan Masalah
Bagaimana definisi
fungsional struktural menurut Robert K.
Merton ?
C. Pembahasan
Robert K. Merton, (4 Juli 1910 - 23 Februari
2003) Sosiolog asal Amerika ini mungkin dianggap lebih dari ahli teori lainnya
yang telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas serta seorang pendukung
yang mengajukan tuntutan lebih terbatas mengenai teori-teori fungsionalisme. Ia
mengakui bahwa pendekatan ini telah membawa kemajuan bagi pengetahuan
sosiologis, ia juga mengakui bahwa fungsionalisme struktural mungkin tidak akan
mampu mengatasi seluruh masalah sosial. Pada saat yang sama Merton tetap
sebagai pelindung setia dari analisa fungsional, yang dinyatakannya mampu
melahirkan ”suatu masalah yang saya anggap menarik dan cara berfikir yang saya
anggap lebih efektif dibanding dengan cara berfikir lain yang pernah saya
temukan”. (Merton, 1975:
30)
Model analisis fungsional Merton merupakan hasil
perkembangan pengetahuannya yang menyeluruh tentang ahli-ahli teori klasik yang
menggunakan penulis besar seperti Max Weber. Pengaruh Weber dapat dilihat dalam
batasan Merton tentang birokrasi. Mengikuti Weber, Merton (1957: 195-196)
mengamati beberapa hal berikut di dalam organisasi birokrasi modern:
1.
Birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional
dan formal.
2.
Ia meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas.
3.
Kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan
organisasi.
4.
Jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan
struktur birokrasi.
5.
Status-status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat
hirarkis.
6.
Berbagai kewajiban serta hak-hak d dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan
yang terbatas serta terperinci.
7.
Otoritas pada jabatan, bukan pada orang.
8.
Hubungan-hubungan antara orang-orang diabtasi secara formal.
Merton memulai analisa fungsionalnya dengan
menunjukkan perbendaharaan yang tidak tepat serta beberapa asumsi atau postulat
kabur yang terkandung dalam teori fungsionalisme. Merton mengeluh terhadap
kenyataan bahwa “sebuah istilah terlalu sering digunakan untuk melambangkan
konsep-konsep yang berbeda-beda, seperti halnya dengan konsep yang sama
digunakan sebagai simbol dari istilah-istilah yang berbeda”.
Merton mengutip tiga postulat yang dapat di dalam
analisa fungsional yaitu sebagai berikut :
1.
Postulat tentang Kesatuan Fungsional masyarakat yang adapt dibatasi
sebagai “suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerjasama
dalam suatu tingkat keselarasan atau kosistensi internal yang memadai, tanpa
menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat dibatasi atau diatur”.
Merton menegaskan bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari suatu masyarakat
adalah “bertentangan dengan fakta”. Sebagai contoh seseorang mengutip beberapa
kebiasaan masyarakat yang dapat bersifat fungsional bagi suatu kelompok
(menunjang integrasi dan kohesi suatu kelompok) akan tetapi disfungsional
(mempercepat kehancuran) bagi kelompok lain.
2.
Postulat Fungsionalisme Universal, berkaitan dengan postulat pertama. Menurut
Merton, fungsionalisme universal menganggap bahwa “seluruh bentuk sosial dan
kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif”. Sebagaimana yang
sudah diketahui, Merton memperkenalkan konsep difungsi maupun fungsi positif.
Beberapa perilaku sosial jelas bersifat disfungsional. Merton menganjurkan agar
elemen-elemen kultural seharusnya dipertimbangkan menurut kriteria keseimbangan
konsekuensi-konsekuensi fungsional (bet
balance of functional consequences), yang menimbang fungsi positif terhadap
fungsi negatif. Sehubungan dengan kasus agama di Irlandia Utara tadi seorang
fungsionalis harus mencoba mengkaji fungsi positif maupun negatifnya, dan
kemudian menetapkan apakah keseimbangan diantara keduanya lebih menunjuk pada
fungsi negatif atau positif.
3.
Postulat Indispensability, ia menyatakan bahwa “dalam setiap tipe
peradaban, setiap kebiasaan, ide, obyek materil, dan kepercayaan memenuhi
beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang ahrus dijalankan, dan
merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem
sebagai keseluruhan. Menurut Merton postulat ini masih kabur. Belum jelas
apakah fungsi (suatu kebutuhan sosial, seperti reproduksi anggota-anggota baru)
atau item (suatu norma, seperti keluarga batih), merupakan suatu keharusan. Merton
menulis, pendek kata postulat indispensability sebagaimana yang sering
dinyatakan mengandung dua pernyataan yang berkaitan, tetapi dapat dibedakan satu
sama lain. Pertama, bahwa ada beberapa fungsi tertentu yang bersifat mutlak
dalam penegrtian, bahwa kecuali apabila mereka dijalankan, maka masyarakat
(atau kelompok maupun individu) tidak akan ada.
Robert K. Merton mencoba menjelaskan penyimpangan
melalui struktur sosial. Menurut teori ini, struktur sosial bukan hanya
menghasilkan perilaku yang konformis saja, tetapi juga menghasilkan perilaku
menyimpang. Merton mengemukakan tipologi cara-cara adaptasi terhadap situasi,
yaitu konformitas, inovasi, ritualisme, pengasingan diri, dan pemberontakan
(perilaku menyimpang).
Komformitas, ini merupakan perilaku yang
mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan
tersebut (cara konvensional dan melembaga). Maksudnya adalah cara dijalankan
dan ends atau goals juga dijalankan. Contohnya yaitu seorang anak belajar
dengan sungguh-sungguh agar nilai ulangannya bagus.
Inovasi, merupakan perilaku mengikuti tujuan yang
ditentukan masyarakat, tetapi memakai cara yang dilarang oleh masayarakat (termasuk
tindak kriminal). Contohnya yaitu untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM),
Erik tidak mengikuti ujian, melainkan melalui calo dan siswa ingin mendapatkan
nilai bagus dalam ujian dia melakukan tindakan mencontek atau mencari bocoran
jawaban.
Ritualisme adalah perilaku seseorang yang telah
meninggalkan tujuan budaya. Namun masih tetap berpegangan pada cara-cara yang
telah digariskan masyarakat, dalam arti ritual atau upacara dan perayaan masih
diselenggarakan tapi maknanya telah hilang, Contohnya yaitu Mita tidak
mempunyai keahlian atau keterampilan di bidang komputer, tetapi Mita terus
berusaha untuk mendapatkan ijazah itu agar diterima kerja di perusahaan asing.
Pengunduran/Pengasingan Diri, yaitu meninggalkan,
baik tujuan konvensional maupun cara pencapaiannya yang konvensional,
sebagaimana yang dilakukan oleh pecandu obat bius, pemabuk, gelandangan maupun
orang-orang gagal lainnya. Contohnya yaitu tindakan siswa yang membakar dirinya
sendiri karena tidak lulus Ujian Akhir Nasional. Dalam pengasingan diri juga
terdapat Retritsm. Orang yang menjalankan retritism adalah Anomi (tidak punya
nilai). Retiritism adalah masyarakat tidak mampu memaksa individu untuk
melakukan sesuatu. Individu yang teranomi berkumpul, maka akan membentuk suatu
kelompok. Yang biasa disebut dengan kelompok belajar.
Pemberontakan (Rebellism), yaitu penarikan diri
dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai dengan upaya untuk
melembagakan tujuan dan cara baru, misalnya para reformator agama. Contohnya
yaitu pemberontakan G 30S/PKI yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan
ideologi komunis.
Merton juga mengemukakan mengenai fungsi manifest
dan fungsi laten. Fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, laten adalah
yang tidak dikehendaki. Maka dalam stuktur yang ada, hal-hal yang tidak relevan
juga disfungsi laten dipengaruhi secara fungsional dan disfungsional. Merton
menunjukan bahwa suatu struktur disfungsional akan selalu ada. Dalam teori ini
Merton dikritik oleh Colim Campbell, bahwa pembedaan yang dilakukan Merton
dalam fungsi manifest dan laten, menunjukan penjelasan Merton yang begitu kabur
dengan berbagari cara. Dalam hal ini, Merton tidak secara tepat
mengintegrasikan teori tindakan dengan fungsionalisme. Hal ini, berimplikasi
pada ketidakcocokkan antara intersionalitas dengan fungsionalisme structural.
Merton terlalu naïf dalam mengedepankan idealismenya tentang struktur dan
dengan beraninya dia mengemukakan dia beraliran fungsionalis, tapi dia pun
mengkritik akar pemikiran yang mendahuluinya.
Teori Fungsionalisme Struktural yang dikemukakan
oleh Robert K. Merton memiliki perbedaan apabila dibandingkan dengan pemikiran
pendahulu dan gurunya, yaitu Talcott Parsons. Apabila Parsons dalam teorinya
lebih menekankan pada orientasi subjektif individu dalam perilaku maka Merton
menitikberatkan pada konsekuensi-konsekuensi objektif dari individu dalam
perilaku. Menurut Merton, konsekuensi-konsekuensi objektif dari individu dalam
perilaku itu ada yang mengarah pada integrasi dan keseimbangan (fungsi
manifest), akan tetapi ada pula konsekuensi-konsekuensi objektif yang tidak
diketahui. Oleh karena itu, menurut pendapatnya konsekuensi-konsekuensi objek
dari individu dalam perilaku tersebut ada yang bersifat fungsional dan ada pula
yang bersifat disfungsional.
Anggapan yang demikian itu merupakan ciri khas yang membedakan antara
pendekatan Robert K. Merton dengan pendekatan fungsionalisme struktural yang
lainnya. perlu diketahui bahwa Teori Fungsional Taraf Menengah yang ia cetuskan
tersebut, merupakan pendekatan yang sesuai untuk meneliti hal-hal yang bersifat
kecil atau khusus dan bersifat empiris dalam sosiologi.
D. Kesimpulan
Merton telah menghabiskan karir sosiologinya
dalam mempersiapkan dasar struktur fungsional untuk karya-karya sosiologis yang
lebih awal dan dalam mengajukan model atau paradigma bagi analisa struktural.
Dia menolak postulat-postulat fungsionalisme yang masih emntah, yang
menyebabkan paham kesatuan masyarakat yang fungsional, fungsionalisme
universal, dan indespensability. Merton mengetengahkan konsep disfungsi,
alternatif fungsional dan konsekuensi keseimbangan fungsional, serta fungsi
manifes dan laten, yang dirangkainya kedalam suatu paradigma fungsionalis.
Walaupun kedudukan model ini berada diatas postulat-postulat fungsionalisme
yang lebih awal, tetapi kelemahannya masih tetap ada. Masyarakat dilihat
sebagai keseluruhan yang lebih besar dan berbeda dengan bagian-bagiannya.
Individu dilihat dalam kedudukan abstrak, sebagai pemilik status dan peranan
yang merupakan struktur.
Beberapa teori Merton yang terungkap dari tiga postulat menjelaskan
tentang kesatuan fungsional masyarakat yang dibatasi sebagai suatu keadaan
dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerjasama dalam suatu tingkat
keselarasan atau konsistensi internal yang memadai. Fungsionalisme universal
menyatakan bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki
fungsi-fungsi positif, meskipun beberapa perilaku sosial cenderung bersifat
disfungsional. Analisis terakhir dalam postulat indispensability menegaskan
bahwa dalam setiap peradaban, setiap kebiasaan, ide, obyek material dan kepercayaan
memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang harus
dijalankan, karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan sistem
secara keseluruhan. Merton sendiri mengkritisi postulatnya dengan pernyataan
bahwa kita tidak mungkin mengharapkan terjadinya integrasi masyarakat secara
sempurna.
